Home     About Us     Partners     Clients     Experiences     Testimoni     Magang     Member

twittergoogle+linkedin

Ini Alasan Kenapa Peringatan Tsunami di Palu Tidak Diketahui Masyarakat

03 October 2018 03:27


gempa tsunami paluSebenarnya sistem peringatan dini tsunami yang ada di Indonesia sudah dibangun pasca tsunami besar di Aceh pada tahun 2004. Tidak main-main, sistem tersebut rancang oleh Pusat Geologi Jerman, Geoforschungszentrums (GFZ) Potsdam.

 

Pertanyaannya, apakah sistem tersebut berfungsi dengan baik ??

 

Pasca gempa dan tsunami di Palu, juru bicara GFZ Josef Zens memberikan pernyataan tegas bahwa software serta sistem yang dipasang dapat berfungsi dengan baik tanpa ada masalah.

 

Sebenarnya pusat pemantauan sistem peringatan dini tsunami di Jakarta sudah mengeluarkan peringatan akan terjadi tsunami lima menit tepat setelah gempa terjadi di Sulawesi Tengah.

 

Berdasarkan simulasi komputer disebutkan bahwa akan terjadi gelombang tsunami dengan tinggi 0,5 sampai 3 meter.

 

Namun, kenapa banyak orang yang mengaku tidak mendengar atau mengetahui ??

 

Josef Zens melanjutkan penjelasannya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terlalu cepat menarik peringatan dini tsunami yaitu 37 menit setelah peringatan pertama dikeluarkan.

 

Padahal, jika merujuk pada sistem yang dibuat harusnya peringatan tsunami baru boleh dibatalkan setelah dua jam sejak peringatan pertama dikeluarkan.

 

Dilansir dari detik.com, ahli GFZ yang juga ikut membangun sistem peringatan dini tsunami di Indonesia, Jrn Lauterjung memberikan penjelasan kepada telivisi Jerman ARD, semua fungsi yang terdapat pada sistem yang dibuatnya dapat berfungsi dengan baik karena informasi akan terjadinya tsunami disebar luaskan tepat lima menit setelah gempa kepada seluruh pihak yang memiliki tanggung jawab dalam penanganan bencana.

 

“Namun informasi itu tampaknya tidak sampai kepada masyarakat setempat yang membutuhkannya," ujar Lauterjung.

 

Ketika Ditanyakan apakah waktu lima menit masih bisa dipersingkat, dia menjelaskan: "Semua data-data yang diterima dari lokasi gempa harus diolah oleh komputer, kemudian dibuat model simulasi untuk menentukan, apakah ada ancaman gelombang tsunami, dan lokasi mana saja yang terancam. Semua itu berlangsung empat sampai lima menit. Itulah waktu yang tercepat membuat simulasi yang real."

 

Setelah diselidiki, Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Hasanuddin Z Abidin menjelaskan berbagai masalah yang ada ketika terjadi gempa yang diiringi tsunami di Palu.

 

BIG mengelola satu stasium pasang surut di dermaga Kota Palu. Didalam statsium tersebut sudah terpasang sebuah alat untuk menganalisa pasang surut yang fungsinya untuk mendeteksi akan terjadi tsunami.

 

Stasiun ini dipasang tepat di pinggir laut yang diolah secara online menggunakan aliran listrik. Namun, ketika terjadi gempa dengan kekuatan yang cukup besar menyebabkan jalur komunikasi dan listrik terputus sehingga data dari statsiun pasang surut berhenti mengalir.

 

Dari kejadian ini, Hasanuddin mengambil pelajaran yang sangat penting dimana instrumentasi peringatan dini gempa dan tsunami harus selalu berjalan dengan baik.

 

Hasanuddin juga menjelaskan bahwa Palu membutuhkan Buoy Tsunami untuk dipasang di lepas pantai dan satu lagi sebagai backup atau cadangan jika tidak berfungsi.

 

Dilansir dari :

https://news.detik.com/dw/d-4237349/ini-kata-pakar-jerman-soal-sistem-peringatan-dini-tsunami-indonesia

 

https://sains.kompas.com/read/2018/09/30/181500723/kok-bisa-bisanya-tsunami-palu-tak-terdeteksi-big-beberkan-masalahnya

 

Testindo sebagai perusahaan control dan monitoring system menyediakan berbagai layanan geotechnical instrumentation seperti PDA Test, CSL Test, Crack Monitoring System, landslide monitoring system, structural health monitoring system (SHMS), dan lainnya.

 

Pemesanan dan konsultasi bisa hubungi kami melalui nomor Telepon: (021) 29563045, Whatsapp: 081399291909, Email: sales@testindo.com



Another Blog